Dosen pembimbing biasanya menentukan gaya sitasi di awal bimbingan, dan pilihan itu jatuh ke APA atau MLA. Kalau kamu masih bingung membedakan keduanya, intinya begini: APA lebih menekankan tahun terbit, sedangkan MLA lebih menekankan halaman sumber. Perbedaan kecil ini mengubah cara kamu menulis kutipan dan daftar pustaka sepanjang skripsi.
Perbandingan format penulisan sitasi APA dan MLA di bawah ini mencakup aturan, contoh, dan kecocokan dengan bidang studi. Setelah membaca, kamu bisa menentukan mana yang paling pas untuk topik penelitianmu, atau setidaknya paham kenapa pembimbing memilih salah satunya.
Apa Itu Gaya Sitasi APA?
APA singkatan dari American Psychological Association. Gaya ini lahir dari komunitas psikologi, lalu menyebar ke pendidikan, ilmu sosial, ekonomi, dan kesehatan. Ciri paling khasnya adalah penekanan pada tahun terbit, karena pembaca di bidang ini perlu tahu seberapa baru sumber yang kamu pakai.
Dalam teks, kutipan APA ditulis dengan format penulis-tahun. Contohnya: (Santoso, 2020). Kalau kamu menyebut nama penulis langsung di kalimat, tahun terbit diletakkan dalam tanda kurung setelah nama. Halaman baru dicantumkan saat mengutip kalimat langsung, misalnya (Santoso, 2020, hlm. 45).
Daftar pustaka APA disusun alfabetis dengan nama belakang penulis di depan. Urutannya: nama belakang, inisial, tahun dalam tanda kurung, judul, sumber penerbitan, lalu DOI bila ada. Baris kedua dan seterusnya menjorok ke dalam sekitar setengah inci.
Contoh sitasi APA di daftar pustaka
Berikut gambaran entri buku dan artikel jurnal dalam gaya APA. Perhatikan posisi tahun dan format judulnya.
Santoso, B. (2020). Metode penelitian kualitatif untuk ilmu sosial. Penerbit Nusantara.
Rahayu, S., & Pratama, D. (2019). Peran literasi digital pada mahasiswa akhir. Jurnal Pendidikan Indonesia, 8(2), 112-125. https://doi.org/xxxx
Judul buku ditulis miring, sementara judul artikel jurnal tidak. Nama jurnal dan volume juga ditulis miring. Detail seperti ini sering jadi tempat kesalahan mahasiswa, padahal dosen penguji cukup teliti soal konsistensi.
Apa Itu Gaya Sitasi MLA?
MLA berasal dari Modern Language Association, dipakai luas di bidang bahasa, sastra, seni, dan humaniora. Fokus utamanya bukan tahun terbit, melainkan halaman tempat kutipan berada. Alasannya, analisis teks sastra lebih membutuhkan lokasi kutipan daripada usia sumber.
Kutipan dalam teks MLA ditulis dengan format penulis-halaman, tanpa tahun. Contohnya: (Santoso 45). Kalau nama penulis sudah disebut di kalimat, cukup cantumkan nomor halamannya saja dalam tanda kurung.
Daftar pustaka MLA disebut Works Cited. Nama penulis ditulis lengkap, tahun tidak wajib ada di depan, dan judul buku ditulis miring sedangkan judul artikel dalam tanda kutip. Urutannya alfabetis berdasarkan nama belakang penulis.
Contoh sitasi MLA di daftar pustaka
Santoso, Budi. Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Sosial. Penerbit Nusantara, 2020.
Rahayu, Sinta, dan Dedi Pratama. "Peran Literasi Digital pada Mahasiswa Akhir." Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 8, no. 2, 2019, hlm. 112-125.
MLA menulis nama penulis secara lengkap dan menempatkan tahun di akhir entri, bukan di awal. Setelah nama penulis pertama, nama berikutnya ditulis normal, bukan dibalik.
Perbandingan Langsung APA dan MLA
Supaya lebih mudah melihat bedanya, berikut perbandingan berdasarkan aspek yang paling sering muncul saat menulis skripsi.
| Aspek | APA | MLA |
|---|---|---|
| Kutipan dalam teks | (Santoso, 2020, hlm. 45) | (Santoso 45) |
| Penekanan utama | Tahun terbit | Nomor halaman |
| Nama daftar pustaka | References | Works Cited |
| Posisi tahun | Setelah nama penulis | Di akhir entri |
| Bidang umum | Psikologi, pendidikan, sosial, kesehatan | Sastra, bahasa, seni, humaniora |
Dari tabel di atas, perbedaan paling terasa ada di kutipan dalam teks. APA memaksa pembaca tahu kapan sumber diterbitkan, MLA memaksa pembaca tahu di halaman mana kutipan itu berada.
Kapan Sebaiknya Pakai APA?
Pilih APA kalau penelitianmu bertumpu pada data yang perlu diperbarui, seperti survei, eksperimen, atau analisis kebijakan. Di bidang pendidikan, misalnya, sumber terbitan lima tahun terakhir sering dianggap lebih relevan daripada sumber lama.
APA juga lebih ramah untuk penelitian kuantitatif karena struktur penulisannya mendorong kamu menyebut tahun setiap kali mengutip. Pembaca jadi mudah menilai seberapa mutakhir landasan teori yang kamu pakai.
Kapan Sebaiknya Pakai MLA?
MLA cocok untuk penelitian yang banyak bersinggungan dengan teks, seperti analisis novel, puisi, film, atau naskah drama. Nomor halaman menjadi penting karena pembaca kemungkinan besar ingin mengecek kutipan langsung di sumber aslinya.
Kalau skripsimu membahas gaya bahasa, struktur naratif, atau tafsir karya sastra, MLA biasanya lebih masuk akal. Dosen di program studi bahasa dan sastra umumnya sudah terbiasa dengan format ini.
Tips Memilih dan Menjaga Konsistensi
Aturan pertama: ikuti panduan program studimu. Kalau dosen pembimbing sudah menetapkan APA, jangan pindah ke MLA di tengah jalan hanya karena terlihat lebih simpel. Konsistensi lebih penting daripada selera pribadi.
- Baca pedoman penulisan skripsi dari kampus sebelum menyusun bab pertama.
- Simpan salinan panduan resmi APA atau MLA agar tidak menebak-nebak aturan.
- Catat sumber sejak awal di aplikasi manajemen referensi, jangan menunda sampai bab terakhir.
- Cek ulang semua kutipan langsung, pastikan nomor halaman tidak tertukar.
- Samakan format antara kutipan dalam teks dan entri daftar pustaka.
Kesalahan paling sering bukan pada gaya yang dipilih, melainkan pada campuran keduanya dalam satu dokumen. Ada kutipan bergaya APA di bab dua, lalu daftar pustaka bergaya MLA di bagian akhir. Penguji biasanya langsung menangkap ketidakkonsistenan ini.
Kalau kamu memakai aplikasi manajemen referensi, pilih satu gaya sejak awal dan biarkan aplikasi mengurus formatnya. Tetap periksa hasilnya secara manual, karena data yang salah masuk akan menghasilkan sitasi yang salah pula.
Ringkasan
APA dan MLA sama-sama sah dipakai, tergantung bidang dan ketentuan kampus. APA menekankan tahun terbit dan banyak dipakai di ilmu sosial serta pendidikan, sedangkan MLA menekankan nomor halaman dan lazim di bidang sastra dan bahasa. Yang menentukan bukan gaya yang paling mudah, melainkan penerapan satu gaya secara konsisten dari bab pertama sampai daftar pustaka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bisakah satu skripsi memakai APA dan MLA sekaligus?
Sebaiknya tidak. Satu dokumen sebaiknya memakai satu gaya sitasi agar tidak membingungkan pembaca dan penguji. Kalau ada kebutuhan khusus, misalnya mengutip karya sastra di penelitian pendidikan, tanyakan dulu ke dosen pembimbing.
Apakah format APA wajib mencantumkan nomor halaman?
Nomor halaman wajib dicantumkan saat kamu mengutip kalimat secara langsung atau parafrasa yang sangat spesifik. Untuk parafrasa umum, tahun terbit saja biasanya sudah cukup, tetapi pedoman kampus bisa menetapkan aturan berbeda.
Mana yang lebih mudah untuk mahasiswa pemula?
MLA terasa lebih ringkas karena kutipan dalam teks hanya memuat nama dan halaman. Meski begitu, kemudahan bukan alasan utama. Pilih gaya yang diminta program studimu, lalu pelajari aturannya secara menyeluruh sejak awal penulisan.