Cara Menulis Kutipan dan Parafrasa dalam Skripsi Tanpa Plagiarisme

Kutipan langsung dan parafrasa sama-sama dipakai untuk meminjam gagasan orang lain, tetapi aturan penulisannya berbeda. Kesalahan paling sering terjadi saat mahasiswa menyalin kalimat sumber lalu mengganti beberapa kata saja, atau lupa mencantumkan halaman pada kutipan langsung. Panduan ini membahas cara menulis kutipan dan parafrasa dalam skripsi supaya kalimatmu tetap orisinal dan sumbernya jelas.

Kapan memakai kutipan langsung

Kutipan langsung berarti kamu menyalin kalimat sumber apa adanya. Pakai cara ini ketika rumusan asli penulisnya sudah sangat tepat dan kalau diubah malah kehilangan makna, misalnya definisi operasional, bunyi pasal, atau kesimpulan sebuah penelitian.

Batas panjangnya berbeda tiap kampus. Sebagian pedoman membolehkan kutipan langsung pendek masuk ke dalam paragraf dengan tanda petik, sebagian lagi mewajibkan kutipan lebih dari tiga atau empat baris ditulis sebagai blok terpisah tanpa tanda petik. Cek buku pedoman skripsi fakultasmu sebelum mulai menulis. Sertakan nomor halaman setiap kali mengutip langsung. Tanpa halaman, pembaca tidak bisa melacak kalimat itu di sumber aslinya.

Contoh kutipan langsung pendek dalam gaya APA:

Menurut Sugiyono (2019, hlm. 8), "metode penelitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan
kegunaan tertentu".

Kesalahan yang sering muncul pada kutipan langsung

  • Mengganti satu atau dua kata di dalam kalimat sumber tanpa memberi tanda kurung siku, padahal itu sudah bukan kutipan langsung lagi.
  • Memakai tanda petik untuk kutipan blok yang seharusnya ditulis menjorok.
  • Lupa nomor halaman karena hanya mencatat nama penulis dan tahun dari daftar pustaka.
  • Menumpuk terlalu banyak kutipan langsung dalam satu bab sampai tulisanmu terasa seperti kumpulan tempelan.

Cara memparafrasa tanpa mengubah makna

Parafrasa adalah menulis ulang gagasan sumber dengan susunan kalimatmu sendiri. Cara paling aman: baca satu paragraf sumber, tutup bukunya, lalu tuliskan intinya dari ingatan. Setelah itu buka kembali sumbernya dan bandingkan. Kalau susunan katamu masih meniru struktur aslinya, ulangi prosesnya.

Mengganti kata dengan sinonim bukan parafrasa. Kalimat “faktor utama penyebab stres akademik adalah tuntutan deadline yang menumpuk” tidak menjadi parafrasa hanya karena diubah menjadi “penyebab pokok tekanan belajar ialah desakan tenggat yang bertumpuk”. Strukturnya masih sama, dan pemeriksa plagiarisme biasanya tetap menangkapnya.

Cara lain yang lebih aman adalah menulis parafrasa dengan sudut pandang berbeda. Kamu bisa membalik urutan logika kalimat, menyatukan dua kalimat sumber menjadi satu, atau menambahkan penghubung yang menjelaskan hubungan antargagasan. Setiap parafrasa tetap wajib menyebut sumber, biasanya nama penulis dan tahun.

Alur kerja parafrasa yang bisa kamu ikuti

  1. Catat kutipan asli beserta halaman saat membaca, jangan menunda sampai besok.
  2. Tulis inti gagasan di catatan dengan bahasamu sendiri, tanpa melihat teks.
  3. Baru buka sumbernya lagi untuk memeriksa ketepatan makna.
  4. Tempelkan sitasi di akhir kalimat parafrasa.
  5. Jalankan pemeriksa kemiripan sebelum mengirim bab ke pembimbing.

Kalau kamu nyaman mencatat di aplikasi, aturannya tetap sama: pisahkan kolom kutipan asli dan kolom catatan pribadimu. Beberapa aplikasi manajemen referensi bisa menyimpan kedua kolom itu sekaligus, dan perbandingannya bisa kamu baca di perbandingan aplikasi manajemen referensi untuk skripsi.

Membedakan parafrasa, ringkasan, dan sintesis

Tiga istilah ini sering tertukar. Parafrasa menulis ulang satu gagasan dengan panjang yang kurang lebih sama. Ringkasan memadatkan satu bagian panjang, misalnya satu bab buku, menjadi beberapa kalimat. Sintesis menggabungkan beberapa sumber lalu menarik benang merahnya, dan inilah yang paling banyak dinilai di tinjauan pustaka.

Kalau kamu hanya memparafrasa satu per satu jurnal secara berurutan, tinjauan pustakamu akan terasa seperti daftar. Bandingkan temuan antarpenulis, tunjukkan persamaan dan pertentangannya, lalu jelaskan posisi penelitianmu. Uraian lebih jauh soal ini ada di panduan cara menyusun tinjauan pustaka skripsi yang kritis.

Aturan sitasi yang perlu konsisten

Pilih satu gaya sitasi dan pakai sampai skripsi selesai. Gaya APA dan MLA punya aturan penulisan nama dan tahun yang berbeda, dan perbandingannya sudah dibahas di format penulisan sitasi APA dan MLA. Yang paling sering keliru adalah sitasi dalam teks yang tidak cocok dengan entri daftar pustaka, misalnya nama penulis ditulis lengkap di badan teks tetapi disingkat di daftar pustaka.

Jenis penggunaan Perlu nomor halaman Perlu tanda petik
Kutipan langsung Ya Ya, kecuali blok
Parafrasa Tidak wajib Tidak
Ringkasan satu bab Tidak wajib Tidak

Kebiasaan menulis ringkas juga berguna di luar skripsi. Kalau nanti kamu ingin melatih kemampuan menulis untuk audiens yang lebih luas, latihan menuangkan kejadian sehari-hari jadi tulisan pendek bisa dimulai lewat cara menulis blog untuk siswa.

Memeriksa sendiri sebelum diserahkan

Sebelum menyerahkan bab ke pembimbing, jalankan pemeriksa kemiripan. Baca hasilnya dengan tenang: kemiripan pada daftar pustaka dan kutipan langsung yang sudah diberi tanda petik umumnya bukan masalah. Yang perlu diperbaiki adalah kalimat yang mirip padahal tidak kamu tandai sebagai kutipan.

Periksa juga apakah setiap paragraf yang memuat gagasan orang lain sudah punya sitasi. Satu paragraf dengan tiga sumber berbeda sebaiknya menyebut ketiganya, bukan hanya sumber pertama. Setelah itu, barulah kamu menyunting alur dan ejaannya, seperti dijelaskan di panduan cara menyunting skripsi sendiri sebelum diserahkan.

Kalau nanti kamu berencana melanjutkan studi dengan beasiswa, kebiasaan mendokumentasikan sumber sejak awal akan sangat membantu saat menyusun proposal riset. Gambaran umum prosesnya ada di cara mencari beasiswa luar negeri dari nol.

Ringkasan

Kutipan langsung memakai kalimat asli dan wajib menyertakan halaman, sedangkan parafrasa menulis ulang gagasan dengan struktur kalimatmu sendiri. Keduanya tetap butuh sitasi. Yang membedakan penulis yang rapi dan yang sering kena revisi biasanya sederhana: mencatat sumber saat membaca, bukan saat menulis.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa banyak kutipan langsung yang wajar dalam satu skripsi?

Tidak ada angka pasti karena bergantung pada bidang dan pedoman kampus. Namun kutipan langsung sebaiknya dipakai untuk hal yang memang tidak bisa diubah, seperti definisi atau kutipan hukum. Sebagian besar isi skripsi idealnya berupa parafrasa dan sintesis.

Apakah parafrasa tetap dianggap plagiarisme kalau tidak menyebut sumber?

Ya. Gagasan tetap milik penulis aslinya meskipun kalimatnya sudah kamu ubah. Menyebut sumber adalah kewajiban, bukan formalitas. Kalau kamu lupa dari mana gagasan itu berasal, lebih baik cari ulang sumbernya daripada menulis tanpa sitasi.

Bagaimana kalau sumber aslinya berbahasa Inggris?

Kamu boleh menerjemahkan lalu memparafrasa, tetapi sitasi tetap mengarah ke sumber aslinya. Jangan mencantumkan dirimu sebagai penerjemah kecuali kampus memang mengatur demikian. Simpan teks aslinya di catatan supaya kamu bisa memeriksa ketepatan makna kapan saja.